Letter #53

Temen lain-lain

Friendly, fashionable, fun

Raufi Pohan, teman main

We shared the same interest in music, football club, fashion sense…dan kita sering pergi konser bareng sampe ke Singapore… Words can’t never describe how much we’ve lost you Dha…You’ll be missed surely cuii…YNWA!

CEB3F7FB-F278-452F-B521-536A44187824 - Raufi Pohan.jpg

Letter #35

Temen lain-lain

Three words about Ardha:

A rare kind heart

Ami Fraise, sahabat pena.

I think in life I would never find someone like Ardha, as I describe Ardha itu “a rare kind heart”. I never met Ardha in person, but I met him through words, emails and social media. I will never forget a line that he wrote in his replies from my letter, “Let’s make friendship”. He didn’t know me, we never met and he still spend time to write back a thank you reply.

Kita gak pernah bener-bener ketemu dan ngobrol, walau Ardha selalu dengan baiknya bilang untuk menyapa kalo ketemu. I never had the courage. I wish I did but I’ve always seen him anyway during college and later in life I’m happy to see him all good in social media, until that day. I can say I owe him this amazing life journey I had now. And I’m grateful that in one moment I manage to thank him. I do wish I told all over again though. He taught me kindness, and I owe life for giving a life chance to find him. I didn’t know if he remember me somehow but I will always remember him. I saw how his daughter looks very sweet and I feels sad that she had to live without her dad. If I can tell her I would say, “Baby you had amazing dad, and I knew he would want you to be an awesome lady, I believe you would. Be kind, just like your dad. Be brave. And have faith, I believe God will lead your journey.”

With love, Ami.

Letter #14

Temen lain-lain

Three words about Ardha:

a caring, loving person, great persona and humble.

Gibond

Saya dan Ardha dipertemukan dan diperkenalkan melalui dosen pembimbing saya di fakultas sejarah UI. Singkat cerita setelah pertemuan itu sering nongkrong bareng. Kemudian saya melanjutkan kuliah di Singapore dan tetap menjalin kontak, beberapa kali Ardha yang Sneakers Mania datang ke Singapore dan untuk menghemat biaya saya pun mempersilahkan dia menginap di kost saya. Ternyata sang sneakers mania ini datang ke Singapore untuk hunting sepatu Vans, dll untuk koleksinya dan juga untuk dijual kembali melalui kaskus. Jadi seringkali saya dan Ardha keliling Singapore, memasuki setiap toko sepatu, hasilnya entah berapa banyak sepatu yang sudah dia bawa pulang dan jual, saya sendiri sudah lupa karena cukup banyak.

Kemudian setelah pertemuan-pertemuan ini kita hilang ditelan kesibukan masing-masing lengkap dengan hiruk-pikuk kehidupan. Saya mendengar kabar Ardha menikah, tetapi entah bagaimana belum dipertemukan kembali, beberapa kali saya juga bertemu dengan teman-teman yang kebetulan kenal dengan Ardha, kabar-kabar baik saya dengar dari mereka tentang Ardha mulai kehidupan pribadi, keluarga dan pekerjaan. Mendengar ini pun saya senang sekali tapi entah bagaimana saya juga belum dipertemukan kembali dengan Ardha dan saya pun berpikiran kalau memang waktunya nanti juga ketemu (….wishful thinking). Sampai di awal bulan ini saya melihat notifikasi hari kelahirannya di sebuah media sosial, tetapi karena saya melihat akun sosial media Ardha pun tidak terlalu aktif maka saya pun kembali mengurungkan niat (yang kemudian ternyata hal ini menjadi penyesalan terbesar saya di kemudian hari). Sampai kemudian di penghujung bulan saya mendengar bahwa Ardha telah meninggalkan dunia yang fana ini dan terlahir dalam keabadian. It was a great loss! Tidak ada perpisahan, tidak ada kata selamat tinggal, hanya sang pencipta yang mengetahuinya.

Ardha was a caring, loving person, great persona and humble. So long Ardha, see you on the other side!