Letter #49

Saudara ipar

Aradea Ramadhan Hakim (Ara), Kakak ipar.

Saya mengenal Ardha sebagai seseorang yang baik dan supel dalam pergaulan dengan teman-temannya, juga sebagai seseorang sayang kepada keluarganya. Setidaknya ada 3 episode yang saya ingat secara jelas tentang beilau.

Pertama ketika di awal kenal sebagai adik dari sahabat saya. Ardha yang pada waktu itu bersama teman-temannya sedang main ke Bandung, menyempatkan untuk menghubungi saya untuk kemudian ketemuan dan ngobrol. Ini sangat berarti dan berkesan bagi saya. Saya ingat  ketika mengantarnya ke beberapa tempat di Bandung dan juga wajahnya yang ceria saat bertemu dan ngobrol dengan saya.

Kedua, ketika suatu waktu di 2005 saya mengunjungi rumah Pulomas, saat itu saya terenyuh melihat Ardha yang menunjukkan perhatiannya kepada Ali yang pada waktu itu masih kecil (dengan menepuk-nepuk kepala dan menyisir rambut Ali dengan penuh kasih sayang).

Ketiga, ketika tahun lalu (2017) Ardha berinisiatif untuk datang ke Bandung dan menyewa villa di Resor Dago Pakar untuk kumpul-kumpul dan meluangkan waktu bersama saudara-saudara kandungnya. Walau tidak banyak berbicara dari hati ke hati seperti yang mungkin dimaksudkan, tapi saya ingat interaksi yang baik antara Ardha dengan anak-anak saya, nonton dan makan bersama.

Saya ingin mengakhiri dengan mengutip Gibran tentang persahabatan dan perpisahan: “Janganlah bersedih ketika berpisah dengan sahabatmu, karena kebaikannya akan lebih cemerlang bersama ketiadaannya.”

Kami yang ditinggalkan tidak akan merasa sedih (berkepanjangan), karena kebaikan-kebaikan Ardha akan semakin diingat dengan kepulangannya.